Persoalan minat baca pada anak adalah masalah yang klasik. Berbagai upaya terus dilakukan untuk dapat meningkatkan minat baca. Namun pada kenyataannya, minat baca anak Indonesia masih begitu rendah. Berikut ini beberapa artikel dan hasil penelitian yang membahas berbagai masalah terkait dengan fenomena rendahnya minat baca di Indonesia:
Menurut Ita Dwaita Lantari, rendahnya minat baca anak, tentu tidak hanya sebatas masalah kuantitas dan kualitas buku saja, melainkan terkait juga pada banyak hal yang saling berhubungan. Misalnya, mental anak dan lingkungan keluarga/masyarakat yang tidak mendukung. Orang kota mungkin kesulitan membangkitkan minat baca anak karena serbuan media informasi dan hiburan elektronik. Sementara di pelosok desa, anak lebih suka keluyuran ketimbang membaca. Sebab, di sana lingkungan/tradisi membaca tidak tercipta. Orang lebih suka ngerumpi atau menonton acara televisi daripada menunggui anak belajar. (Ita Dwaita Lantari dalam Minat Baca Vs Bahan Bacaan. (http://www.kompas.com)
Primanto Nugroho (2000) dalam penelitian kualitatifnya memaparkan, rendahnya minat baca disebabkan membaca perlu banyak waktu luang. Sementara orang Indonesia waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja demi mempertahankan hidup dan meningkatkan kesejahteraan. Barangkali harga buku juga ikut andil menjadi pemicu rendahnya tingkat membaca. (Nurhidayah dalam Buku Tunjukkan Karakter Bangsa. http://www.suaramerdeka.com)
Erna MS (2007) dalam penelitian kualitatifnya juga memaparkan, rendahnya minat baca di kalangan anak dapat disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak mendukung, terutama dari orang tua anak-anak yang tidak mencontohkan kegemaran membaca kepada anak-anak mereka. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua mereka terhadap kegiatan anak-anaknya. Hal ini dapat dikaitkan pula dengan konsep pendidikan yang diterapkan dan dipahami orang tua. Sementara terkait dengan fasilitas, minimnya ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dapat membuat anak kurang berminat pada kegiatan membaca karena tidak ada atau kurangnya sumber bacaan yang tersedia di rumah. Selain dari sisi keluarga, terdapat juga pengaruh dari lingkungan. Karena pengaruh ajakan yang begitu kuat dari lingkungan (teman), anak lebih memilih bermain dengan teman-temannya dibanding membaca buku. Dan terakhir, ketersediaan waktu yang kurang, membuat anak kurang berminat untuk membaca. Seperti yang dipaparkan pula oleh Primanto (2000), bahwa membaca memerlukan waktu luang. Kondisi sebagian anak yang kegiatan kesehariannya sudah sangat padat, tentu tidak memiliki waktu yang cukup untuk kegiatan membaca. Seperti kondisi beberapa informan anak yang bersekolah dengan sistem full day school, tentu sebagian besar waktu dalam sehari sudah banyak dihabiskan di sekolah. Kesempatan memiliki waktu luang sangat terbatas. Apalagi jika masih ada kegiatan-kegiatan rutin yang mereka jalani setelah pulang sekolah. Kalaupun masih ada sisa waktu, mereka lebih memanfaatkan untuk bersantai dan melepas lelah.
Filed under: Hasil penelitian Ditandai: | Minat Baca




Perkembangan Minat Baca dan Kemampuan Baca terutama anak-anak kita memang sangat memprihatinkan bila dibandingkan dengan negara lain. Hal ini disebabkan metode yang diberikan terhadap anak-anak kita pada umumnya kurang bahkan tidak menyenangkan. Sebagian besar Metode yang ada hanya berorientasi pada hasil bukan pada proses.
Jika metode yang digunakan pada proses pembelajaran membaca anak tidak menyenangkan, sangat kecil kemungkinannya anak akan memiliki minat baca. Jika minat baca rendah tentu kemampuan bacanyapun akan rendah. Begitu kemampuan bacanya rendah, minat untuk membacapun akan berkurang.
Mengembangkan Minat berarti melatih atau melakukan kegiatan berulang dengan menyenangkan. Tentunya hal ini berlaku juga dalam pengembangan Minat Baca Anak.
Untuk itu pengembangan Minat Baca Anak sejak usia dini perlu digalakkan sebelum anak-anak kita terpengaruh dengan dampak negatif globalisasi yaitu Minat Nonton TV.
Goooooooooood
bagaimana sih caranya meningkatkan kemampuan membaca anak usia SMP?
soalnya baru saja melaksanakan ulangan harian dengan metode openbook dimana semua jawabannya sudah ada di buku tersebut. hanya 2 bab. Hasilnya? sangat mengecewakan
dari 8 kelas @ 35 siswa yang mendapatkan nilai >70 kurang dari 50%, what’s wrong? padahal model ulangannya hanya B-S, pilihan ganda dan menjawab singkat
have a tips n trick?
Bapak Rochman Arif, kami sudah mengirimkan jawaban kami melalui e-mail Bapak. Semoga jawaban kami bisa menjadi masukan. Kami juga masih belajar, jadi jangan ragu menanggapi jawaban kami tersebut. Kami harap kami bisa belajar banyak dari Bapak.
Salam kenal.
itu karena televisi
Bagaimana sih meningkatkan minat baca siswa di kalangan SMA